Meine

My life, My adventure, My story..

Pages

Cerita Penelitian : Menemukanmu dalam Gelap [Part 3]


HARI BERSAMA KLOTER DUA
(Kloter dua : Behel dan kak Hery)


Rabu, 1 November 2017

            Esok hari, Baso harus segera pulang. Ada jadwal Rapat Kerja P.A.L pada sore hari jam 16.00 Wita dan Baso yang menjabat sebagai Kordinator Badan Pengawas harus hadir rapat itu. Di pagi hari setelah sarapan dan masuk mengambil data di dalam gua, saya menemani Baso berjalan kembali ke desa terakhir. Ia harus pulang lebih dulu ke Makassar. Sedangkan kak Leny dan kak Wiki menunggu di camp hingga teman kloter kedua datang.

            Kali ini, Baso berjalan sambil memasang tali rafia berwarna biru pada pohon di sepanjang jalan. Tali ini akan menjadi petunjuk bagi teman-teman kloter lainnya yang akan datang ke lokasi camp penelitian saya. 

            Sesampainya kami (saya dan Baso) di rumah Pak RT, ternyata teman kloter kedua sudah datang, Behel dan Kak Hery sudah menunggu lama. Mereka malah sudah siap berjalan ke lokasi camp. “Hufftttt…. Saya baru saja sampai dan hendak istirahat. Haruskah saya jalan kembali ke camp lagi? Capeknya,” ujarku saat itu kepada Behel dan Kak Hery.

            Tidak ingin menyurutkan semangat kloter kedua ini, saya akhirnya memutuskan langsung jalan ke lokasi camp. Saya berpisah dengan Baso dan berkata “Terima kasih bro, jangan ko lupa datang lagi di hari terakhir nah. Bantu ka tangkap kelelawar,” Ia hanya mengiyakan saja.

            Behel dan kak Hery membawa dua daypack dan menenteng satu kantong plastik berisi makanan masak dan roti yang telah dibuat oleh mama saya. Setiap kloter memang harus membawa makanan yang diambil dari rumah saya. Kalau tidak, kami bisa kekuranngan gizi di lapangan. Hahaha.

                  Perjalanan kami lalui kurang dari satu jam. Kak Hery dan Behel yang masih segar berjalan begitu cepat. Hal ini memaksa saya yang jadi penunjuk jalan pun harus berjalan lebih cepat.

           Sesampainya di lokasi camp, kak Wiki ditemani kak Hery memasang flysheet dan memperbaiki tata letak lokasi camp. Saat semuanya sudah beres, waktunya berpisah dengan Kak Wiki dan Kak Leny. Mereka menitipkan pesan agar saya tidak lupa dimana letak alat penelitian di dalam gua. Saya memang terkenal sebagai orang yang pelupa. Orang-orang dekat saya sudah hapal dengan kebiasaan melupakan sesuatu itu.

Lokasi camp baru

            WELCOME kloter empat……..

            Hari ketiga di lapangan saya lalui bersama kloter kedua dengan santap siang. Bekal dari mama saya sangat nikmat sekali rasanya. Nyummmy…. Dengan meminta kiriman makanan dari rumah, saya pun merasa dekat dengan kedua orang tua saya. Buktinya saja, makanan kita sama walau raga berada di tempat yang berbeda. Hahaha.

            Selesai makan, kak Hery pergi mencari sungai. Memang ada sebuah sungai yang letaknya agak jauh dari lokasi camp. Namun saya lupa jalan menuju sungai itu. Wajar saja saya ke sungai itu tiga tahun lalu, jadi ingatan tentang lokasi sungai sudah sangat buram.

            Ketika kak Hery pergi ke sungai, saya bersama Behel mencuci piring sambil bernostalgia. Behel ini teman SMA saya, nama aslinya Astri. Tetapi, karena ia menggunakan behel saat SMA, maka saya sering memanggilnya Abel (Astri behel) ataupun Behel saja. Ia anaknya supel jadi tidak pernah ambil pusing dengan ejekan-ejekan saya. Kami bercerita banyak hal sampai kak Hery kembali. Ia telah menemukan sungai. Besok siang setelah masuk gua kami harus pergi mandi di sana. Yeaaaaaaaah…..

            Malam hari, saya masuk gua bersama kak Hery. Behel memutuskan untuk menunggu saja di camp. Ia takut merepotkan pengambilan data. Memang si Behel ini anaknya rempong sangat loh. Hahhaa. Pengambilan data ini dilakukan setiap pagi hari pukul 07.00 Wita serta malam hari pukul 19.00 Wita.
           
            Selesai mengambil data di gua, Behel menyambut kami dengan santapan salad buah. Woww… Behel memang berbelanja banyak buah untuk dibawa ke lapangan. Katanya, biar Frans tidak kekurangan gizi. Hahhaa. Padahal, buah-buahan yang beranekaragam ini justru merangsang untuk buang air besar -_- Tetapi, saya berterima kasih bisa menemukan teman seperti Behel yang bawel tapi perhatiannya sangat besar ini. Hahaha. Malam ini diakhiri dengan salad buah dan kami pun beristirahat.
Salad buah + twister + coklat toblerone ala Behel

Kamis, 2 November 2017    

            Keesokan harinya, seperti biasa tanpa menyetel alarm saya bangun pukul 05.30 Wita. Saya lalu membangunkan Behel untuk shalat subuh. Ia juga membangunkan kak Hery untuk shalat bersama. Ternyata kak Hery lebih dulu bangun. Katanya, ia kaget jam 04.00 Wita dan tak bisa tidur hingga waktunya shalat subuh. Setelah shalat, kedua orang ini malah kembali tidur. Hahaha. Saya bergegas menyiapkan sarapan dan perlengkapan untuk masuk gua. Oh iya, kak Hery adalah orang yang paling ahli meracik makanan di antara kami semua. Jadinya dia tanpa disuruh memilih untuk memasak nasi. Katanya, nasi buatan saya terlalu lembek, selain itu biasanya hanya setengah masak. Aduh, payah deh……

           Kak Hery membagikan tips cara masak nasi. Katanya, dia selama ikut kegiatan lapangan di organisasinya selalu dapat tugas masak nasi. Jadi sudah khatam deh. Hahaha. Ia berpesan agar mengukur jumlah air yang akan dimasukan bersama beras itu dengan pas. Jika kurang air maka nasi akan keras dan jika kelebihan air, nasi bisa jadi bubur. Oleh karena itu, harus pas. Jika di tengah waktu memasak ternyata nasinya kekurangan air, jangan sekali-kali menambahkan air. “Pasrah mko saja Frans kalau masak mi nasimu baru keras ki karena kalau ko tambahkan air itu tidak membantu nasimu jadi lembek. Jadi kalau jelek dari awalmi nasimu, yah sudah ikhlaskan mi saja,” katanya saat itu. 

            Setelah menyantap sarapan pagi, kami (saya dan Kak Hery) bergegas untuk masuk ke dalam gua mengambil data suhu dan kelembaban. Selain itu, kami juga ingin memotret kelelawar yang berada di Aula Gua untuk dihitung jumlah populasinya. Saya sebelumnya sudah tau bahwa kak Hery ini memiliki kemampuan untuk mengambil gambar yang baik. Hal ini karena pernah stalking akun Instagramnya. Ini pengakuan loh kak. Tolong jangan di unfollow yah akun saya. Hahahaha.
            Ternyata memang kemampuan menggunakan kamera yang dimiliki kak Hery, sangat baik. Tapi, tetap saja perlu waktu lama untuk menyetel pengaturan di kamera agar gambar yang diinginkan dapat diambil dengan baik. Beda kamera, beda pengaturan ternyata. Belum lagi ada lensa panjang (lensa tele) yang digunakan jadi agak ribet setelan kameranya. Sedihnya, saya tidak mengerti sama sekali tentang itu. Kami pun menghabiskan waktu setengah jam lebih untuk menyetel kamera saja.
            Setelah kamera siap, saya mengarahkan headlamp ke tempat koloni kelelawar bertengger. Kelelawar ini merasa terganggu dan terbang ke sana ke mari. Sabaaaaaaaaar…… Kami pun berdiam lama hingga setengah jam tanpa cahaya. Hal ini dilakukan agar kelelawar kembali ke tempatnya bertenggernya. Benar saja, semua kelelawar kembali tenang. Saya kembali memberi cahaya ke arah yang ingin dipotret. Kelelawar pun tidak seagresif tadi. Kali ini, hanya beberapa saja yang terbang.
            Saat kamera sudah mengarah ke kerumunan kelelawar, tiba-tiba kak hery batuk. Kelelawar pun kembali terbang. Ahh….. Kelelawar memang sangat peka terhadap suara. Jadi sebisa mungkin, kita harus tenang tanpa pergerakan yang menimbulkan suara berlebih. Kami berdiam lagi tanpa cahaya. Saya memberi tahu kak Hery agar batuk dulu sebelum siap motret.
            Lama berdiam diri di dalam Aula Gua, kami merasa sangat panas dan bau tai kelelawar begitu menyengat hingga ke kepala. Melelahkan sekali rasanya, padahal belum dapat satu foto pun. 

            Akhirnya, kak Hery menyemangati saya yang hanya duduk termenung melihat kelelawar yang bergantungan. “Jangan ko galau Frans, tunggu mi jadi foto ta ini nah,” katanya saat itu. Ia pun mengarahkan kamera ke arah kerumunan kelelawar dan menginstruksikan saya untuk menyalakan headlamp.

            Beberapa kali kak Hery mengambil gambar dan menunjukkan ke saya. Ia meminta saya melihat dulu hasil potretannya. Saya hanya melihat sambil menyebut nama famili dari kelelawar yang di foto. “Oh yang ini kelelawar Rhinolophus kak. Di hidungnya itu ada tanduknya kak,” ujarku. Nampaknya kak Hery tidak mengerti apa yang saya katakan. Dia malah menanyakan ke arah mana lagi harus memotret, tanganku pun berputar-putar dan menunjuk seluruh area Aula Gua yang sangat luas.

            Setelah itu, kami beristirahat. Saya membuka tas untuk mengambil kue dan air yang sengaja dipacking dari camp karena pasti waktu yang dihabiskan di dalam gua ini lebih lama. 

            Saat makan, kak Hery membuka perbincangan. Katanya saat itu, “Senang sekali ko pasti toh? Senyum-senyum mko saya lihat ini. Takkalanya adami fotonya kelelawar,” Saya hanya tertawa mendengarnya sambil berkata “Iya toh. Berhasil ka ini kak,” Kami hanya menghabiskan setengah bungkus biskuit Roma Sari Gandum dan kembali melanjutkan tugas memotret kelelawar. Sebelumnya saya menjelaskan bahwa masih ada satu famili kelelawar yang belum didapatkan fotonya. “Ada yang namanya kelelawar hidung babi kak, Hipposideros. Dia itu seperti namanya hidungnya mirip dengan hidungnya babi. Warna bulunya kuning dan ada juga putih. Nah, di mana dia berada yah di aula seluas ini?” Mendengar pernyataan ini, kak Hery tambah bingung.

            Akhirnya, kami kembali memotret di daerah yang sebelumnya telah diambil fotonya untuk memastikan letak sarang kelelawar Hipposideros. Dua jam lebih di dalam gua, kami tak menemukan sarang kelelawar hidung babi. Badan sudah penuh keringat karena sarang kelelawar ini sangat panas. Saya mengajak kak Hery keluar gua. Pengambilan data dilanjutkan nanti malam saja.
     
       Keluar dari gua, kami sudah mengatur rencana untuk pergi ke sungai. Ternyata, saya belum mandi sejak hari pertama sampai di Gua Mara Kallang. Rombongan kloter pertama hanya mencuci muka dan sikat gigi saja tiap pagi dan malam serta mengganti pakaian. Hahahaha.

            Perjalanan menuju ke sungai ternyata sangat melelahkan. Waktu tempuh yang dihabiskan sekitar setengah jam. Berjalan sangat jauh, Behel yang sedari tadi eksis dengan selfie selama di perjalanan pun berkata “Adehh… Jauh ta jalan deh. Pulang ini keringat jki lagi nah,” Ucapannya ini disusul dengan ketawa dari saya dan kak Hery. Kami semua sepakat jalan ini terlampau jauh dan akan menghasilkan keringat lagi jika kembali ke camp.


            Oh iya, keputusan untuk meninggalkan camp kosong adalah hal yang membuat saya sangat was-was. Saya takut dengan kamera dan laptop yang ditinggalkan di dalam tenda. Namun, saya tetap berpikir positif dan berdoa semoga tidak terjadi kejadian yang tidak diinginkan.
            Saking lamanya berjalan, saya dan Behel mulai lelah dan tertinggal jauh sekali dari kak Hery sang penunjuk jalan. Sesekali, Behel teriak meminta kak Hery menunggu kami yang ketinggalan jauh ini. “Jangan bilang ini sungainya kak.” ujarku tiba-tiba menunjuk ke arah sungai kecil. Kak Hery menggeleng-geleng saja sambil menyuruh kami (saya dan Behel) cepat berjalan. Tidak lama kemudian, kami sampai. Akhirnya, sungaaaaaaaaai….. Mandi…. Cuci baju….. Ambil air bersih……


            Saya mencuci baju dulu sebelum mandi. Banyak sekali pakaian kotor saya mulai dari hari pertama. Selain itu, cover all yang digunakan masuk gua pun sangat kotor sekali harus segera dicuci. Selesai mencuci, saya mandi. Saat itu, botol air mineral yang kami bawa untuk menampung air minum digunakan menjadi gayung. Air sungai yang sangat jernih ini membuat badan merasa segar sekali.

            Mencuci pakaian, mandi dan mengisi air di botol, jergen dan drybag pun sudah selesai. Kami bergegas pulang, tiba-tiba saya teringat bahwa tadi di perjalanan menuju sungai pesan Line masuk di Hp Behel. Artinya ada jaringan telepon di sekitar sungai. Saya mencoba mengaktifkan Hp saya, sekalian ingin menghubungi teman yang jadi kloter ketiga. Ternyata jaringannya tidak stabil. Biasa muncul kemudian tenggelam. Aduh….
Anak sungai bersama Behel
            Behel pun menawarkan saya menelpon lewat Hp miliknya saja. Saya jadi merasa tidak enak harus menggunakan pulsanya. Tapi, ia meyakinkan saya untuk tidak perlu sungkan-sungkan. Hahaha. Akhirnya, saya menelpon Anto, teman kloter ketiga. Panggilan saya langsung dijawab. Sayangnya, Anto berkata ia tidak jadi datang menemani. Motornya tiba-tiba rusak dan Ical yang rencananya akan pergi bersamanya tidak bisa dihubungi. Saya jadi bingung harus bagaimana. Saya hanya menitip pesan, jika ia ke kampus tolong beritahu teman-teman saya di P.A.L bahwa esok sampai dua hari kedepan tidak ada yang menemani Frans di lapangan. Harapannya ada teman-teman di P.A.L yang kosong aktivitasnya dan bisa menemani saya.

            Tetapi, harapan saya belum pupus. Masih ada dua orang lagi yang menjadi anggota kloter ketiga, Pika dan Beddu. Saya mengembalikan Hp Behel dan menghubungi Pika dengan menggunakan Hp saya. Sebelum saya menelpon, ternyata sms dari Pika lebih dulu masuk di Hp saya. Isinya permohonan maaf. Katanya ia sudah berusaha menghubungi Beddu yang jadi partner jalannya dan tidak pernah ia berhalangan ikut karena menjadi asisten di kampus dan keberangkatan menuju Pangkep bertepatan dengan jadwal praktikumnya.

            Kepala saya jadi pusing sekali, kini bukan cuma burung-burung yang berputar kelelawar pun turut serta. Mendengar cerita tentang kondisi kloter tiga, kak Hery menyuruh saya untuk tidak perlu pusing. Dirinya dan Behel masih bisa memperpanjang waktu untuk menemani saya. Katanya, mereka masih bisa tinggal satu hari lagi di tempat ini. Tetapi tawaran itu tidak membuat perasaan saya sepenuhnya lega.

            Saya pun memutuskan menghubungi teman saya, kak Julian. Selain kedua orang tua, kak Julianlah orang yang tidak pernah absen saya hubungi saat mendapat jaringan telepon di lokasi penelitian. Ia adalah orang yang punya segudang solusi untuk saya yang sering panik dan berat sejak dalam pikiran ini. Panggilan saya tersambung, sayangnya saya tak mendengar apa yang ia katakan. Jaringannya hilang-hilang. Saya memutuskan untuk menceritakan masalah saya lewat pesan singkat saja.

            Tanpa menunggu lama, ia sudah membalas pesan. Saya memang menyuruhnya sigap memegang Hp selama saya berada di lapangan karena jika ada apa-apa pasti saya memberi kabar. Mendapat balasan sms tidak membuat saya plong. Saya memutuskan harus menelpon. Akhirnya tersambung dengan jaringan yang stabil. Setiap permasalahan saya ceritakan secara rinci, ia seperti biasanya selalu mendengar dengan tenang.

            Saya memintanya datang menemani di lokasi penelitian dan ia harus menghubungi Pika sebagai teman jalannya. Syukurnya, ia mengiyakan saja. “Saya izin sama mamaku dulu nah. Nanti saya hubungi Pika. Tenang mko, datang ja itu Frans,” katanya menutup perbincangan di telepon. Hati saya pun lega karena selama kenal dengan kak Julian, saat ia berjanji selalu berusaha ditepati.

            Kembalilah kami bertiga menuju lokasi camp. Saya menceritakan pada kak Hery dan Behel bahwa ada teman KKN saya dan teman saya di identitas yang akan datang besok. Pengambilan data esok hari pun aman. Sayangnya, masalah kami ternyata belum selesai. Air yang dibawa dari sungai begitu berat. Saya memutuskan membawa drybag 10 L, Behel membawa dua botol Aqua 2L, sisanya kak Hery membawa jerigen dan tiga botol Aqua 2L.

            Melihat pembagian beban, sudah jelas kak Hery yang jadi pemenang dari pembawa beban terberat. Tetapi hal itu tak membuat saya dan Behel berjalan cepat kembali ke camp. Saat berjalan, langit makin mendung. Akhirnya kak Hery mengambil semua beban air yang dibawa Behel dan ia juga mengambil drybag yang saya bawa ditukar dengan jerigen. Dengan beban yang ¾ ada di pundak kak Hery, saya dan Behel pun berjalan dengan cepat. Semangat yeyeyyelalalala….  

            Sesampainya di camp, saya langsung memeriksa tenda. Ternyata barang kami aman. Desa ini betul-betul aman. Kami lekas menjemur semua cucian dan bersiap santap malam. Seperti malam pada kloter pertama, kami juga memutuskan berpesta di malam terakhir ini sebagai kenang-kenangan perpisahan. Lagi-lagi, pesta salad buah. Yeaaaaah…..

            Malam ini, kami memutuskan masuk gua bertiga. Behel pun diyakinkan untuk ikut masuk bersama. Pemandangan di dalam gua sangat menakjubkan. Lagian, kami bisa membantunya jika ia kesulitan menyusuri gua. Sesudah santap malam, kami bersiap masuk gua sekaligus pengambilan data di malam hari.

            Sekarang, kami sudah siap dengan coverall dan berbagai perlengkapan pengambilan data. Saya berjalan di depan, disusul Behel kemudian kak Hery. Saat dekat dengan mulut gua, saya mengamati dulu sekitarnya.

            Malam ini, ular muncul lagi. “Auuu…. Itu ada ular di sana. Tidak jadi ki masuk ini,” ucapku sambil menunjuk ke arah mulut gua. Behel yang mendengarnya malah panik. “Aduh, pulang mko besok Frans. Sama-sama ki. Bahayanya penelitianmu. Ada ular wee, ada ular. Takut ku. Tidak disantap jki nanti malam kalau tidur itu? Jangan sampai masuk di tenda ta. Pulang mko deh Frans,” katanya panjang dan cepat. Mendengarnya saya hanya menyuruhnya santai saja. (Padahal dalam hati dumba’-dumba’ gleter) Hahaha.

            Lagi-lagi, rencana foto bersama di dalam gua gagal. Ular yang sedang mencari makan pun membuat kami juga mencari makan di tenda saja dibanding masuk dalam gua. Salad buah buatan Behel kembali mengisi perut sebelum tidur.


TO BE CONTINUE

Cerita Penelitian : Menemukanmu dalam Gelap [Part 2]


HARI BERSAMA KLOTER PERTAMA          
(Kloter pertama : Baso, kak Leny, kak Wiki, Aim dan Antoks)

Senin, 30 Oktober 2017

            Dalam perjalanan kali ini, partner jalan saya sebagian besar mahasiswa Fakultas Kehutanan dan saudara saya di P.A.L, jadi tidak terlalu sulit untuk berkomunikasi. Sialnya, Aim di sini satu-satunya mahasiswa Jurusan Sosial Ekonomi Perikanan, baru pertama kali masuk hutan dan tidak pernah berolahraga sebelumya.

            Aim awalnya penuh sukacita menemani saya yang juga seniornya di identitas ini. Sayangnya, apa yang ia bayangkan sangat jauh dari realita keadaan di lapangan. Mungkin saja dalam benak Aim terselip kalimat-kalimat ini “Mimpi apa ka tadi malam pergi temani kak Frans penelitian? Sudah jalannya jauh, jelek, becek, motor tidak kuat mendaki, kaki tidak kuat berjalanan, beban tas yang dibawa lagi sangat berat. Ahhh, lebih baik saya pergi kerja berita daripada temani anak Kehutanan penelitian.”

            Dalam tulisan ini, saya ingin meminta maaf lagi sama Aim, maafkan senior yang menjebak juniornya ini ke hutan. Kebaikan hatimu tidak pernah saya lupakan. Hehehe.

             Perjalanan kami berjalan lancar hingga ke desa terakhir, Desa Manyampa. Setiba di desa terakhir, berakhir juga perjalanan dengan menggunakan sepeda motor. Motor, kami parkir di rumah pak RT dan lanjut cusssss tracking ke Gua Mara Kallang. Kami harus berjalan kaki dengan jalur yang naik turun naik turun, berbatu dan juga licin karena saat itu hujan. Waktu yang dihabiskan untuk tracking  ini sekitar satu jam. Namun, jika membawa beban yang berat dan memang jarang olahraga yah waktunya bertambah lagi setengah jam. Hahhaa.  

            Kloter pertama menghabiskan waktu satu setengah jam perjalanan karena kami singgah berteduh. Hujan begitu deras menguyur enam anak manusia ini. Andai saja tidak membawa kamera dan laptop, kami nekat meneruskan perjalanan. Sebagai anak lapangan, kami kecuali Aim senang berjalan saat hujan. Selain karena saat hujan keringat kami tidak terlihat, menangis saat hujan pun tidak ada yang tau (Hahahahahaha…. Lebaaay). 

            Kami berteduh dan memasang flysheet. Kak Wiki pun menyalakan korek dan membakar rokoknya. Ia menghangatkan diri dengan rokok. Sisa kami berlima yang saling berhimpit menghangatkan satu sama lain. Sayangnya, kehangatan itu tak membuat cacing di perut tenang. Kami lapar. Untung saja saya membawa bekal roti dan snack yang di packing di bagian atas carrier. Perut kenyang, hati pun senang. Hujan berhenti, perjalanan dilanjutkan.

            Sesampainya di Gua Mara Kallang, hanya Baso dan Aim yang bingung mencari dimana mulut gua terletak. Partner saya yang lainnya sebelumnya sudah pernah datang ke lokasi penelitian ini. Mulut Gua Mara Kallang memang sangat kecil dan tersembunyi. Jika tidak menyimak dengan baik, pasti akan bingung.
Mulut Gua Mara Kallang
             Kami memasang tenda dan menyiapkan perlengkapan masak. Saat semuanya beres, waktunya berpisah dengan Antoks dan Aim. Dua orang ini harus segera kembali ke Makassar, mereka memiliki jadwal kuliah di hari Selasa dan parahnya Aim ternyata tidak memberi kabar kepada orang tuanya kalau ia pergi ke Pangkep -_- Terima kasih Antoks dan Aim kalian istimewa di hati dan sungguh berarti, huhahhaa.
 
           Sepeninggalan Antoks dan Aim, kami pun beres-beres lokasi camp dan makan. Tidak butuh waktu yang lama untuk menunggu makan terhidang, saya yang pada dasarnya bukan seorang chef dibekali makanan oleh kedua orang tua. Mama saya khawatir anak perempuannya yang satu-satunya ini membuat teman-temannya kelaparan di tengah hutan. Jadinya, semua makanan sudah dimasak sebelumnya. Saya hanya membawa beras, mie, telur serta bumbu garam. Hhahahahaa. Sesungguhnya, hanya bahan makanan itu yang gampang diolah.
Lokasi camp di depan mulut Gua Mara Kallang

          
Melihat persediaan makanan yang tersaji begitu lengkap, teman saya tidak banyak protes. Mereka sudah tau bagaimana tabiat saya selama di dapur, kita sudah sering ke lapangan bersama. Sehabis makan, kami menyambut malam dengan saling sharing (padahal gosip yaaaa). Bagi teman yang di Makassar dan merasa ta’sakko yah berarti kalian sedang naik arisannya untuk menjadi bahan cerita di lapangan. Hahhahaa. Teman-teman ini memang suka jahil siapa yang tidak ada di lokasi, dialah yang jadi bahan cerita.

            Malam ini juga ditutup dengan saling mencurahkan kisah percintaan. Sebenarnya, tidak ada yang dengan sukarela menjadikan kisah cintanya bahan obrolan, tapi keadaan menjebak untuk saling cerita. Hahahahaha. Mungkin ada rindu yang terselip di hati kami yang berteman dingin, di tengah hutan dan jauh dari rumah. Eitssss, baru hari pertama loh.

Selasa, 31 Oktober 2017

            Keesokan paginya saya tersadar pada jam 05.30 Wita. Luar biasa, ini menjadi rekor baru. Jangan tanyakan jam berapa saya bangun jika sedang di rumah. Saya menyiapkan sarapan pagi, membuat teh dan kopi juga mengeluarkan beberapa kue untuk disantap. Sejak kecil saya terbiasa sarapan dengan kue dulu, kalau tidak makan kue rasanya ada yang kurang. Setelah siap semua sarapan, teman-teman saya bangun. Uhuuuy… Betapa bahagianya saya selesai masak dan orang siap menyantapnya. (Padahal hanya masak air dan membuat teh dan kopi -_-).

            Setelahnya, kami ternyata mendapat kunjungan dari beberapa warga desa. Memang lokasi camp kami yang berada di area bekas sawah ini selalu dikunjungi warga yang ingin mencari madu hutan dan juga membuat gula merah. Kami bercerita soal penelitian yang dilakukan dan akan menetap selama dua minggu di tempat ini. Mereka malah kaget karena merasa waktu itu sangat lama. Dalam hati saya pun berkata “Ini warga lokal saja bilang kalau dua minggu itu lama sekali, bagaimana saya yang bukan warga desa sini?” Saya merasa drop tapi harus tetap semangat. Saya sudah ada di lokasi, pantang pulang sebelum selesai pengamatan di lapangan.

            Waktu masuk gua pun tiba. Saat itu, saya ditemani kak Wiki membuat jalur pengamatan juga memasang alat pengukur suhu dan kelembaban di dalam gua. Tak lupa kami juga memasang alat di luar gua. Kami berjalan sambil mengukur untuk data pemetaan.

            Dalam perjalanan mengukur gua, saya tiba-tiba melihat tikus yang melintas di antara ornamen gua, Pilar. “Ihhh, ada tikus kak. Ayo mi keluar deh. Tidak lanjut ma ini penelitian kak,” ujarku cepat sekali pada kak Wiki. Mendengar hal ini, ia hanya menanyakan lokasi tempat saya melihat hewan itu. Kak Wiki pun menenangkan saya dan pengambilan data dilanjutkan. Oh iya, saya sangat tidak suka dengan tikus. Hewan yang aneh dan menjijikan. “Tuhan, ini dosa apa saya ketemu tikus di lokasi penelitian? Bagaimana jika saat mengambil data dia tiba-tiba muncul menyerang? Ahh. Pingsan ma itu,” gumamku dengan perasaan was-was.

            Pengambilan data dilanjutkan dan akhirnya kami sampai di Aula Gua tempat yang menjadi sarang kelelawar, kak Wiki merasa perutnya sakit. Mungkin saja ia pusing mencium bau guano (tai kelelawar) sehingga berpengaruh ke perutnya. Kami keluar dari gua karena ia ingin buang air.

            Ketika sampai di tempat camp, kak Leny dan Baso sedang asik-asiknya menikmati madu yang diberikan oleh warga. Madu ini baru diambil dari sarangnya loh. Nampaknya enak, namun saya terganggu dengan ulat-ulat kecil yang ada di madu. Ihhh….Menjijikan sekali. Namun, Baso menyakinkan saya “Coba ki dulu Frans, enak sekali nah. Pasti mau ko tambah,” Sambil tutup mata, saya mencobanya. Hmmmmmm…… Nikmat sekali ya Tuhan. Enak, enak, enak…….
 
Madu nikmat santapan kami
            Madu nikmat selesai disantap. Kami lanjut makan siang dan istirahat sejenak. Setelahnya, saya bersama Baso masuk ke dalam gua untuk menyelesaikan jalur pengamatan dan pergi mengambil air. Oh iya, di dalam Gua Mara Kallang ini ada sungai jadi kami biasa mengambil air di dalam. Warga desa pun sering mengambil air dari gua. Sebenarnya ini bukan pilihan yang bagus, soalnya ada kelelawar di dalam gua, bisa saja tai kelelawar yang mengandung banyak metana ini masuk ke dalam air. Tapi karena sedang musim kering, pipa sekitar lokasi camp tidak mengalirkan air, sungai pun kering. Tidak ada pilihan lain selain meminum air gua dan berdoa semoga tidak sakit. Hehehe.
           
            Jalur pengamatan selesai, saya dan Baso pun keluar dari gua. Namun, tugas kami berdua belum selesai, Baso harus menemani saya mencari jaringan telepon untuk menghubungi teman yang menjadi kloter kedua. Besok pagi kloter pertama ini sudah harus kembali ke Makassar. Jaringan adalah hal yang paling susah dicari saat sedang jauh menepi dari rumah dan berada di hutan.

            Setau saya jaringan hanya ada di desa terakhir. Akhirnya, kami tracking menuju rumah Pak RT tempat menyimpan motor. Hal ini dilakukan demi mendapatkan jaringan sekaligus membeli jajanan untuk Kak Wiki dan Kak Leny. Mereka rindu minum air dingin dan makan snack.

            Sebelum tracking, saya memeriksa alat pengukur suhu yang saya letakan di balik batu untuk mengukur suhu di luar gua. Alat ini terletak di tempat yang tertutupi tumbuhan menjalar sehingga susah untuk menemukannya dan terlihat aman dari gangguan. Saat mengecek lokasi penyimpanan alat, saya terkejut karena alat ini berpindah dari tempatnya sebelumnya. Saya meraba-raba daerah sekitar batu itu dan menemukan plastik alat. Ahhh, syukurlah. Setelah melihat plastik itu, ternyata ada bekas gigitan dan alatnya tak ada lagi di tempatnya. “Hilang alat pengukur suhu ku gengs,” teriakku saat itu.
           
            Seketika saya menjadi sangat panik dan seluruh penghuni tenda membantu mencari alat itu di antara tumbuhan menjalar. “Susahnya didapat ini alat kayaknya, bentuknya kecil warna logam kayak uang koin,” kataku memberi petunjuk benda yang dicari. Kak Wiki mengambil parang dan memotong tumbuhan-tumbuhan yang menghalangi pencarian. Di sekitar lokasi alat yang hilang ini, ternyata ada lobang yang dalam sekali. Jangan-jangan alatnya jatuh di situ. Ahhhh…. Gawaaaat.
           
            Lama mencari, sedikit lagi putus asa. Muka bingung, pucat, tak ada harapan hidup lagi. Pikiranku saat itu hanya, bagaimana data pengukuran suhu di luar gua? Hmm…. Melihat saya yang begitu gundah gulana, Baso mengajakku untuk pergi mencari jaringan dan belanja dulu. Setelah balik baru kami cari kembali alatnya. Saya mengiyakan saja.
           
            Setiba di desa terakhir, saya mencoba menghubungi Behel, teman saya yang menjadi anggota kloter kedua. Sayangnya, ia tidak menjawab panggilan. Kami pun pergi belanja dulu dengan menggunakan motornya Baso. Ternyata berbelanja di Desa Manyampa ini tidak semudah di kota Makassar, yang jalan sedikit sudah ketemu supermarket. Di sini hanya ada kios dan jaraknya sangat jauh dari rumah Pak RT. Itupun kios pertama yang kami temukan tidak jual minuman dingin, kios kedua, ketiga dan keempat syukurnya jual minuman dingin, tapi tidak ada air mineral.
           
            Segera kami keluar dari Desa Manyampa menuju Desa Bantimurung. Nah, di desa ini kios-kios jaraknya agak berdekatan, kami menemukan air mineral dengan segala titipan kak Wiki dan kak Leny. Demi air mineral dingin yang memuaskan dahaga, kita butuh keluar desa dulu loh. Wow!
           
            Setelah menemukan makanan dan minuman yang dicari, kami bergegas kembali ke rumah pak RT tempat menyimpan motor. Kala itu, hari sudah sore sekitar jam 17.00 Wita. Kami takut mendapat malam di perjalanan menuju camp. Meskipun membawa headlamp, tetapi jalan malam bukan hal yang kami suka.
           
            Namun, perjalanan pulang ke camp belum bisa dilanjutkan, Behel belum mengangkat teleponnya. Setelah mencoba menghubungi beberapa kali, akhirnya terjawab. Saya hanya berpesan kepada Behel untuk mengambil beberapa barang yang saya tinggalkan di basecamp P.A.L, ada beras, flysheet dan juga ponco. Selain itu, Behel harus datang pagi-pagi ke lokasi penelitian ini. Saya berjanji akan menjemputnya di rumah pak RT. Untungnya, Behel mengiyakan semua permohonan temannya ini.

            Kelamaan menunggu telepon, membuat saya dan Baso terpaksa menyusuri hutan malam-malam. Segala barang titipan dimasukan ke dalam tas yang dipikul oleh Baso. Saya berjalan tanpa membawa barang apapun, hanya uang sisa belanja kak Leny dan kak Wiki. Meskipun jalan tanpa beban, saya tetap berjalan lambat karena rasanya hari ini begitu melelahan. Keluar, masuk gua, turun, naik ke lokasi penelitian. Ahhhh….. Tapi, saya tidak boleh mengeluh, baru saja dua hari di lapangan. Tiba-tiba Baso mengangetkan saya, “Cepat ko jalan Frans, malam mi.” Saya hanya menjawab iya saja. Langkah kaki pun saya percepat, tiba-tiba saya merasa ada yang jatuh dari kantong saya. Entah itu apa, saya berjalan terus dengan perasaan cemas.

            Setibanya di camp, saya langsung kembali mencari alat yang hilang. Mencari sambil terus berdoa. Mengarahkan senter ke segala arah berharap menemukan alat itu. Tiba-tiba saja saya melihat ada benda yang mengkilap. “Itu sana alatku eeeeee, yesss. Terima kasih Tuhan,” ucapku seketika bersyukur pada Tuhan. Tempat penyimpanan alat ukur akhirnya dipindahkan ke batang pohon yang berada pas di depan camp.

            Ini adalah malam terakhir kloter pertama bersama, yaahhh…. Kami membuat acara perpisahan. Untungnya, kak Leny membawa bakso dari Makassar. Akhirnya, kami pesta mie bakso. Kami akhiri hari yang melelahkan ini dengan menengguk air mineral dingin yang dibeli di Desa Bantimurung tadi. Ahh… Malam yang begitu menyegarkan dan  perut kenyang sekali.
           
            Saya pun lekas memeriksa kantong hendak memberi uang sisa belanja kak Leny. Tiba-tiba, kantong celana sebelah kiri tempat uang kak Leny tersimpan malah kosong. Saya periksa kantong sebelah kanan, semuanya uang saya. Kantong belakang malah tidak ada uang. “Dimana uangnya kak Leny? Aduh, jangan-jangan uangnya yang jatuh tadi di jalan,” batinku. Hal ini segera saya beritahukan pada kak Leny. Ia santai saja, katanya nanti di Makassar baru diurus. Saya menjadi tidak enak sekali malam itu. Apalagi uang saya sisa sedikit, jika harus mengembalikan uang kak Leny, bisakah saya hidup 12 hari ke depan dengan uang 20 ribu di tangan? Oh, tidak…… Kak Leny memutuskan untuk tidak menyoalkan itu.

            Selesai santap malam, kami memutuskan untuk masuk gua bersama. Kak Leny selama di lapangan, belum pernah masuk dalam gua ini. Kami bergegas mengambil perlengkapan dan segera menuju mulut gua. Kala itu saya berada paling depan disusul Kak Leny, Kak Wiki dan Baso.
Siap masuk gua bersama kak Leny

            Tiba-tiba, saya melihat ada yang mengkilap di depan mulut gua. Saya sudah dekat sekali dan hendak masuk, namun saya berkata “Apa itu kak? Kenapa kalau disenter dia mengkilap?” sambil menunjuk ke mulut gua. Kak Wiki pun menjawab dengan nada sedikit panik “Awas ko Frans, ular itu sana.” Untung saja, saya belum memutuskan masuk ke dalam gua. Saya menyimak baik-baik area mulut gua, astaga memang ada ular. Ada dua ular bertengger di sana siap menunggu kelelawar keluar. Saya teringat, ternyata ular memang salah satu predator kelelawar.

            Masuk gua malam ini tertunda. Kak Leny kecewa sekali tidak bisa masuk ke dalam gua. Tapi apa daya, kami tak mungkin menganggu ular yang sedang mencari santap malamnya itu. Jangan sampai kami berempat yang disantap.
Ular di depan mulut Gua Mara Kallang

            Tidak jadi masuk gua, kami pun kembali menghabiskan malam dengan berbagi cerita. Lagi-lagi, kisah cinta menjadi trending topic. Dalam pembahasan kali ini, tidak ada satu orang pun yang luput dari pertanyaan-pertanyaan. Ahhh, kami seperti sedang bermain Jujur-Berani di lapangan. Hahhaa. 




TO BE CONTINUE

Cerita Penelitian : Menemukanmu dalam Gelap [Part 1]

Gua 

Apa yang kamu rasakan dalam kegelapan?
Rasa takut? Rasa senang? Rasa sedih?

           Menjadi seorang mahasiswa Fakultas Kehutanan membuat saya harus terbiasa berteman dengan kegelapan. Di hutan, penerangan tidak semaksimal di kota yah. Apalagi, saya harus berada selama 14 hari untuk mengambil data penelitian. Penelitian ini membuat saya pindah tempat tinggal sementara di depan mulut gua yang dikelilingi hutan. Kurang gelap apa lagi saya? Masuk hutan dan masuk gua. Hmmmmm.

           Masuk hutan kali ini jauh dari bayangan indah saya. Penelitian soal karakteristik gua yang menjadi sarang kelelawar dan jumlah populasi kelelawar yang ada di dalam gua, membuat saya berpikir bisa melakukan semuanya dalam tiga hari saja. Di hutan selama tiga hari, hmmmmmm itu bukan sebuah masalah yang besar.

            Berbekal perencanaan yang matang hanya di pikiran, saya pun menghadap ke dosen pembimbing. Saya hendak meminta restu pergi mengambil data di lapangan juga meminjam beberapa alat penelitian yang ia miliki. Sayangnya, setelah mendengar perencanaan kegiatan penelitian saya, ia malah geleng-geleng kepala. Tanpa diberi aba-aba, perasaan saya pun jadi tidak enak.
           
            Setelah saya berhenti berceloteh, ia mulai menanggapi. “Cuma tiga hari di lapangan? Mau pergi penelitian atau tamasya keluarga?” katanya saat itu yang nyelekit di hati juga pikiran. Tidak berhenti di situ arahan darinya, disambung lagi dengan ketidakrestuannya jika saya hanya tiga hari mengambil data di lokasi penelitian. “Jangan kamu bawa ke saya data pengamatanmu selama tiga hari itu. Saya tidak terima. Lagian, apa juga yang bisa dituliskan dan dianalisis dari data tiga hari di lapangan?” ujarnya panjang dengan nada yang tinggi.
           
            Saya yang sejatinya mahasiswa tidak mau dikalah pun menjelaskan sedikit “Iya bu, saya bisa melakukan semuanya dalam waktu tiga hari. Hari pertama digunakan untuk mengambil data pemetaan gua sesuai metode di penelitian ini. Setelahnya, dipasang alat untuk pengamatan kondisi suhu dan kelembaban di dalam dan luar gua. Alat ini kan merekam ji’ bu jadi tidak perlu dicek terus menerus. Hari ketiga tangkap kelelawarnya baru diawetkan, nanti diidentifikasi di lab. Perhitungan populasi kelelawar pun bisa dilakukan selama tiga hari saja bu dengan tiga kali pengulangan,” ujarku enteng sekali. “Tidak. Kamu harus 2 minggu di lapangan. Kurang dari itu, kamu olah saja sendiri datamu. Cari dosen yang mau bimbing kamu dengan data yang minim,” katanya menutup perbincangan. 

            Rasanya saya gagal jadi mahasiswa yang tidak mau dikalah. Kali ini, saya kalah telak. Ahhh… Payah. Benak saya pun dipenuhi tanda tanya. “Siapa yang bersedia menemani selama 14 hari di lapangan? Hayooo…. Siapa ya Tuhan?” pertanyaan-pertanyaan ini tanpa jeda berputar-putar di kepala.

            Keadaan pusing sendiri seperti ini bukan pertama kalinya saya alami. Dari awal memilih judul penelitian, sudah banyak burung-burung kecil berputar di kepala. Terkadang saya merasa menyesal kenapa harus pilih penelitian kelelawar gua. Penelitian ini belum pernah dilakukan oleh mahasiswa Unhas dan tidak ada ahli kelelawar di kampus. Tetapi di lain waktu saya malah semangat mengerjakan penelitian yang banyak tantangannya ini. Penelitian ini sungguh membuat saya campur aduk.
            Tetapi, saya merasa Tuhan benar-benar merestui penelitian kelelawar gua ini. Saat sedang pusing sendiri mencari literatur mengenai kelelawar gua yang berada di kawasan Karst Maros Pangkep, Tuhan menghadirkan buku hasil penelitian dari LIPI tahun 2012. Buku ini milik senior saya di Pandu Alam Lingkungan (P.A.L) Unhas, kak Sianghati. Setelah membaca, bukannya makin paham malah pertanyaan saya tambah banyak. Saya melihat nama seorang peneliti kelelawar gua LIPI, mas Sigit Wiantoro. Saya pun berkata kepada kak Julian, teman yang menemani mengerjakan proposal penelitian di Perpustakan Pusat Unhas saat itu, “Kak, saya harus ketemu sama Sigit Wiantoro ini. Entah bagaimana caranya. Dia kunci penelitian saya.” ucapku saat itu sambil menunjuk foto kelelawar gua yang diambil oleh Sigit Wiantoro di buku “Fauna Karst Maros Pangkep”.

            Saya lalu berusaha mencari kontak sang peneliti kelelawar gua, dimulai dari stalking sosmed dan bertanya pada beberapa orang seperti kawan-kawan yang sering ikut kegiatan lingkungan dan senior yang bekerja di LSM lingkungan. Singkat cerita, usaha ini berhasil. Kontak Whatsapp Mas Sigit Wiantoro dikirimkan Tuhan kepada saya lewat bantuan dari teman-teman yang hebat. Diskusi penelitian kelelawar gua pun berjalan melalui surat elektronik (email). Sekarang, penelitian saya punya jalan yang cerah.

            Mengingat perjuangan saya menemukan kontak Mas Sigit Wiantoro yang disertai oleh Tuhan, saya pun yakin bisa menemukan teman selama mengambil data penelitian. Lalu bagaimana cara menemukannya?

            Dalam menjalani hidup ini, saya terbiasa berbagi cerita kepusingan yang dialami kepada orang-orang terdekat. Kala itu, sahabat saya Kikoy, beberapa keluarga kecil identitas Unhas juga teman saya kak Julian menjadi tempat sampah kegelisahan ini. Solusi akhirnya ditemukan. Teman penelitian selama dua minggu ini akan dibagi menjadi beberapa kloter (hahahhaha, seolah-olah jamaah haji-_-). Hal ini mempertimbangkan tidak mungkin ada orang yang begitu kosong aktivitasnya dan rela bersama saya selama 14 hari di lapangan.


            Pembagian jadwal untuk setiap kloter teman penelitian pun sudah siap. Saya langsung menghubungi kawan-kawan yang berpotensi menemani saya di lapangan via Whatsapp. Tanpa dijelaskan panjang kali lebar kali tinggi, dengan penuh sukacita mereka me-list namanya masing-masing. 



Penggalan catatan teman penelitian yang tersimpan di Evernote HP



            Tidak butuh waktu yang lama, tiga hari sebelum berangkat ke lokasi penelitian yang terletak di Gua Mara Kallang, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, teman-teman sudah meyakinkan bahwa akan datang menemani saya di lapangan. Namun, namanya rencana perlu ada taktik khusus saat apa yang direncanakan tidak berjalan dengan lancar. Saat hendak berangkat ke lapangan, ternyata barang bawaan saya sangat banyak dan kami yang hanya empat orang (saya, kak Leny, Baso dan kak Wiki) tidak sanggup membawanya. Kami butuh bantuan orang untuk mengangkut barang ke lokasi penelitian.

            Saat itu hari Senin, aktivitas perkuliahan di kampus sedang berjalan. Oh my God, what must i do ? Saya pun hilir mudik ke sana ke mari masuk keluar basecamp P.A.L mencari siapa tau ada orang yang tidak memiliki jadwal kuliah pada hari itu. Dewi Fortuna memang bersama saya, ada satu orang yang saya temukan, Antoks. Tugas selanjutnya, mencari siapa yang akan membonceng Antoks menuju lokasi. 

          Teman-teman di P.A.L sudah tidak ada lagi yang bisa menolong, saya pun menghubungi semua orang yang ada di identitas. Pilihan ini sangat saya ragukan karena saya tau kesibukan kuliah, wawancara, tulis berita yang tidak pernah lepas dalam kehidupan seorang anak identitas. Susah bagi mereka merelakan waktunya pergi menemani saya. Syukurnya, saya menemukan Aim di identitas yang bersedia menolong. 

Finally…. Welcome to the jungle. Yeaaaaaah…………


TO BE CONTINUE

Ahmadiyah, Teguh Walau Ditindas


         
      Siang itu di pengungsian Transito, beberapa anak sedang berkejaran memainkan sebuah gabus bekas pembungkus barang elektronik. Mereka larut dalam keasyikan dunia kanak-kanak. Tiba-tiba, seorang yang jauh lebih tua dari anak-anak itu muncul menyambut kami dan mengajak ke tempat peribadatannya (mushola, red).
        Dengan antusias, amaq Sahidin (49), seorang yang menjadi pengurus Ahmadiyah di Lombok ini berbagi pilu. Dirinya berbagi kisah mengenai aliran yang dianut.
            Kisah mengenai asal usul Ahmadiyah, mulai dari awal masuknya ke Indonesia hingga sampai di Lombok fasih dituturkan. Ahmadiyah dijadikan kelompok minoritas di antara umat Muslim. Pandangan akan ajaran kaum ini berbeda dari segi kitab dan syahadat membuat tak sedikit masyarakat mengucilkan.“Kami juga menggunakan Al-Quran sebagai kitab dan tidak pernah mengganti syariat Islam,” jelas Syahidin dalam pertemuan di Masjid, Selasa (5/5).
            Namun, pernyataan ini tak mudah diterima oleh masyarakat sekitar. Hal ini terjadi kala tahun 1972 Ahmadiyah mulai masuk di daerah Solong, Lombok Timur. Saat kedatangan aliran ini ke Lombok, tidak luput dari kecaman dari berbagai pihak.
            Naasnya, pada tahun 2001 gesekan kembali marak bermunculan. Ajaran ini dianggap berbeda hingga akhirnya dipaksa keluar dari Selong. Kisah ini terkuak dari seorang warga Transito, Asisudin (55) yang saat itu sedang duduk di sebuah lasah samping warung milik istrinya. Kepala keluarga yang memiliki tiga anak ini terpaksa meninggalkan Solong menuju Ketapang pada tahun 2002  untuk mempertahankan kepercayaannya.
            Tak hanya itu, penindasan yang dialami Asisudin dan beberapa kepala keluarga lain tidak berakhir di situ, Ketapang tak menjadi rumah terakhir bagi keluarganya. Memiliki paham yang berbeda membuat ia hidup nomaden. Pada tahun 2006, terjadi penyerangan besar-besaran di Ketapang. Puluhan rumah rusak, orang-orang disiksa dan dipaksa keluar dari Ketapang.
            Berpindah tempat lagi, tak membuatnya putus asa. Diasingkan ke Transito, Majelok, Kota Mataram, membuat ia sedikit lega. Tempat yang tidak terlalu luas ini menjadi satu-satunya harapan hidupnya dan 27 kepala keluarga lain.
            Lahan yang dulunya dijadikan tempat transmigrasi ini lambat laun menjadi milik Ahmadiyah. Banyaknya keluarga yang berdomisili di Transito membuat tempat ini dikenal sebagai tempat pengusingan masyarakat beraliran Ahmadiyah.
            Asisudin menerangkan bahwa warga Majelok menerima keberadaan mereka dengan baik. Selama sembilan tahun tinggal bersama tak ada gesekan yang terjadi di antara mereka. Menurutnya setiap orang harusnya menerima perbedaan yang ada terutama dalam hal keyakinan. “Harusnya masyarakat memiliki wawasan luas mengenai perbedaan itu sendiri,” tutur Asisudin seraya menyesap kopi hitam yang disajikan istrinya.
            “Bukan karena berkali-kali diusir dan dikucilkan yang membuat kami sedih, melainkan bagaimana pemahaman masyarakat yang mudah dipengaruhi yang saya kecewakan,” tambah Asisudin saat diwawancarai di depan rumahnya, Selasa (5/5).
            Keberadaan kaum Ahmadiyah yang sudah lama ini tak serta merta membuat masyarakat seutuhnya menerima. Nur Aini Syahidah, anak yang tinggal di  Transito mengalami diskriminasi di sekolahnya. Siswi SMP Negeri 16 Mataram ini dulu sering dikucilkan ketika duduk di tingkat akhir Sekolah Dasar.
            Aini bercerita bahwa teman-temannya yang tau bahwa ia penganut Ahmadiyah sering mencemooh dirinya. “Kamu nabinya bukan Muhammad,” kata Aini menirukan olokan temannya.
            Menanggapinya, gadis berumur 13 tahun ini membalas dengan belaan mengenai ajaran yang ia pahami. “Saya biasanya menjelaskan bahwa nabi kita itu juga Muhammad, kita juga pakai Al-Quran dan memakai syariat Islam,” tuturnya.
            Menurut Aini, setelah melalui perdebatan, biasanya temannya akan capek dan takut terlebih ketika diancam akan membawakan Mubaliq (Ustad, red) untuk menjelaskan Ahmadiyah.  Sehingga, Aini tak pernah takut ketika diolok lagi oleh temannya.
            Berbeda dengan Aini, siswa kelas 5 SD, Azmi malah pernah pindah sekolah hanya karena diolok oleh teman-temannya. Ketika berada di SD Negeri 27 Mataram, Azmi sering sekali diolok dan dipukul oleh temannya karena menganut aliran Ahmadiyah. “Dulu waktu kelas 2 SD saya pindah sekolah karena tidak suka diolok sama teman,” ungkap Azmi yang kami temui ketika asyik bermain di halaman rumahnya.
            Setelah pindah di SD Negeri 42 Mataram, Azmi memiliki 15 teman yang juga menganut aliran Ahmadiyah sehingga dirinya tidak takut. “Sekarang saya tidak mau pindah sekolah lagi, di sini sudah banyak teman,” tutup Azmi mengakhiri perbincangan kami.
            Meskipun sudah merasa baik hidup di Transito, beberapa masyarakat ada masih tetap tetap ingin kembali ke kampung halaman. Inaq Ida Masna (41) menceritaka hal ini ketika kami tanyakan di depan rumahnya. Saat terjadi pengusiran terhadap kelompoknya, sang ibu terpaksa berpindah dan menggadaikan tanahnya. “Saya gadaikan tanah untuk biaya hidup. Semoga nanti bisa kembali lagi dan bertani dengan lahan itu,” ujarnya saat ditemui di depan rumahnya, Selasa (5/5).
            Menurut inaq Masna, Ahmadiyah di Transito kini hidup tentram, meski dulu pontang-panting. Penindasan membuat mereka tetap teguh. Segala cobaan siap mereka hadapi demi mempertahankan keyakinan. “Berkali-kali disingkirkan dan diasingkan, kami tak kecewa. Pemahaman masyarakat yang sempit dan mudah terprovokasi yang membuat kami sedih,” tutupnya.


Tulisan ini terangkai ketika pelatihan meliput isu keberagaman, 
Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk)
Lombok, 4-6 Mei 2015
Fotonya kurang Kak Linda, ia naik motor soalnya ke lokasi liputan :D

Ditulis bersama kawan2 baru ; 
kak Linda (Universitas Negeri Mataram),
Monika (Universitas Mulawarman), 
kak Iksan (IAIN Ambon), 
Yus (Universitas Pendidikan Ganesha) dan Ita (UIN Alauddin Makassar).