Meine

My life, My adventure, My story..

Pages

Jangan Renggut ‘Gelapku’



            Kegelapan identik dengan hal-hal yang menyeramkan, mistis dan duka yang bernuasa hitam. Menyeramkan kala berapa di tempat yang gelap seorang diri, mistis kala melihat seseorang dengan pakaian serba hitam setiap harinya ataupun duka kala sedang berkabung.
            Suasana gelap memiliki mitos tersendiri bagi beberapa pribadi. Adanya rasa takut berlebih saat berada di tempat nan gulita ini dikarenakan banyaknya ilusi akan keberadaan makhluk lain. Entah orang yang ingin berbuat jahat ataupun hadirnya makhluk asing.
            Berada di tempat gelap juga menyeramkan bagi saya. Namun, persepsi akan gelap itu seram hilang kala kutemukan tempat ini. Saat ku jelajahi, ternyata Tuhan menyimpan cahaya indah-Nya di balik gelap.
            Tempat ini telah lama akrab di telingaku. Ketika diajarkan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) saat menempuh pendidikan dasar hingga Ilmu Sejarah pada pendidikan menegah atas.
            Awalnya, tempat ini saya kunjungi sekedar memenuhi tugas melihat bukti-bukti sejarah. Ketika itu, Taman Prasejarah Leang-Leang Maros menjadi tujuan melihat bukti keberadaan manusia purba dan bagaimana cara mereka menjalani  hidupnya.
            Saya dan teman-teman disuruh melihat telapak tangan manusia purba pada dinding gua. Namun, kami tak sepenuhnya memerhatikan apa yang diajarkan, malah asyik berfoto ria sebagai bukti pernah masuk ke dalam gua.
            Tak sesederhana menjelajah untuk sekedar berfoto, kini pandangku berubah. Terlebih setelah beberapa kali menyusuri gua. Melihat banyaknya stalaktit dan stalakmit yang bertemu menjadi pilar. Stalaktit yang bercabang menjadi helekmit. Penumpukan batu kapur yang menjadi batu alir (flowstone) dan banyak ornamen indah lainnya.
            Bukan hanya ornamen, pertemuan juga terjadi dengan binatang yang harus terbiasa dengan suasana gelap hingga memiliki mata semu. Ada jangkrik, laba-laba, lipan, kelelawar, burung walet, ikan, udang, kepiting, kodok dan lain-lain.
            Kini, gua tak sekedar tempat prasejarah saja. Tempat dimana saya menemukan suasana yang hening, sepi dan damai ini juga sumber kehidupan baik makhluk hidup. Gua yang berada di kawasan karst menjadi tempat penyimpan air yang sangat berperan bagi makhluk hidup. Tak hanya itu, gua juga dijadikan laboratorium ilmiah.
            Mirisnya, gua kini tak seperti dulu lagi. Kilapan dari ornamennya sudah jarang terlihat kala menyusuri gua. Mengapa tidak, yang muncul hanyalah pemikiran bagaimana cara melindungi gua dibalik banyaknya usaha penambangan oleh pabrik semen.
            Menurut informasi dari media online Koran Kompas, Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar, mengungkapkan ada 138 gua prasejarah yang tersebar di sepanjang kawasan karst Maros-Pangkap. Diantaranya, hanya sebanyak 63 gua yang masuk dalam wilayah Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN Babul), sehingga relatif aman dari ancaman kerusakan.
            Sedangkan, 75 gua yang berada di luar kawasan TN Babul rentan terhadap ancaman kerusakan. Kerusakan akan gua makin dikhawatirkan karena bukan hanya ada dua pabrik semen di kawasan karst ini.
            Ada lagi rencana pembangunan pabrik semen di kawasan karst ini. Pabrik semen dari Cina akan mengambil sekitar 500 hektar TN Babul. Lahan yang diambil berasal dari 300 hektar hutan produksi dan sisanya lahan warga.
            Coba bayangkan, jika daerah yang memiliki kawasan karst terbesar di dunia ini memiliki tiga pabrik semen di dalamnya. Dampak seperti apa yang akan ditimbulkan? Akan terjadi polusi udara, kondisi jalan rusak akibat endapan debu semen, parahnya ketersediaan air makin berkurang.
            Bukan hanya pabrik semen yang membuatku tak tenang bernapas, dikenalnya sarang burung walet sebagai bahan pengobatan berbagai penyakit dan bahan mempercantik diri juga. Kini, banyak orang setia melakukan pemburuan sarang walet. Bahkan diperdagangkan hingga ke luar negeri.
            Kembalilah berangan, manusia memasuki gua hanya untuk mengambil kekayaan alamnya tanpa mengerti apa tindakannya menganggu ekosistem di dalam gua atau tidak. Keributan yang mereka buat menganggu ketenangan gua atau tidak.
            Jika memang kita menghormati pendiri bangsa kita, kembalilah ingat pesan Bung Karno. Jas Merah : “Jangan Sekali-Sekali Melupakan Sejarah”. Pahamilah bahwa gua ialah tempat prasejarah yang menyimpan banyak manfaat bagi makhluk hidup di dalam dan luarnya.
            Tempat gelap itu tetap akan tenang jika tak diubah. Tapi ketenangan di sana takkan abadi lagi jika disentuh. Janganlah kau ubah. Biarkan yang gelap itu bersinar dengan isinya, bukan dengan olahanmu!

Orang gelap di tempat gelap, Bersinarlah karena kita gelap :-)




Kelola Hutan untuk Masa Depan


Kondisi hutan di Indonesia sangat memperhatinkan. Meskipun menjadi negara dengan hutan tropis terbesar ketiga di dunia, Indonesia memiliki laju deforestasi yang tinggi. Menurut catatan dari Forest Watch Indonesia (FWI), laju deforestasi hutan di Indonesia dalam periode 2009-2013 mencapai 1,13 juta hektar per tahun. Berikut hasil wawancara reporter identitas, Fransiska Sabu Wolor bersama E.G Togu Manurung PhD selaku  pemateri dari FWI dalam bedah buku “Potret Keadaan Hutan Indonesia  Periode 2009-2013” yang diadakan di Aula Fakultas Kehutanan, Kamis (12/2).

1.    Dalam buku potret keadaan hutan Indonesia periode 2009-2013 dibahas bahwa adanya pengelolaan hutan yang kurang baik. Sebenarnya, bagaimana tata kelola hutan saat ini?
Jawab : Saat ini dalam pengelolaan hutan tidak terjadi yang dinamakan  forest government. Memang di Indonesia ini sudah lama terjadi hal ini. Terlihat dari Sumber Daya Hutan di Indonesia yang hancur lebur dan sangat rusak dengan laju deforestrasi pernah mencapai kedua tertinggi di dunia, lebih dari 2 juta hektar per tahun setara dengan 6 kali keliling lapangan sepak bola. Melalui buku potret keadaan hutan Indonesia hingga tahun 2013, FWI mengamati laju penutupan hutan dan didapatkan laju deforestasi mencapai 1,13 juta hektar per tahun. Ini masih sangat tinggi sekali, lebih dari 3 kali keliling lapangan sepak bola per menit, kita kehilangan hutan.


2.    Berbicara keterlibatan dalam tata kelola hutan yang baik, sebaiknya siapa saja yang harus berperan serta ?
Jawab : Yah, semua pihak. Terlebih dari pihak pemerintah melalui Kementrian Kehutanan yang sekarang berubah menjadi Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk secara sadar membangun database yang baik, transparan dan semua kegiatan dibuatkan perencanaan laporann yang terbuka kepada publik terutama mengenai anggaran. Keterlibatan masyarakat juga penting.

3.    Pemerintah telah mencanangkan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) dalam praktek tata kelola hutan, apakah cara ini belum maksimal dalam mengelola hutan Indonesia? Bagaimana tanggapan Anda?
Jawab : Jadi KPH memang penting. Sesungguhnya inilah kesalahan fatal yang sudah terjadi berpuluhan tahun ini. Kita sudah mulai kegiatan operasi lobi Hak Penguasaan Hutan (HPH) pada akhir tahun 1960-an tanpa mempunyai KPH. Seharusnya ada KPH dulu baru bisa melakukan HPH, namun baru sekarang KPH dimulai. Program ini sangat  penting sebagai basis dalam pengelolaan hutan. Hanya,  permasalahannya kembali klasik yaitu untuk setiap KPH selalu terjadi permasalahan under budgeting dan under stating. Jadi budget yang disediakan untuk KPH itu sangat kecil dan 80% di antaranya  itu digunakan untuk membayar gaji pegawai, biaya pemeliharaan dan untuk biaya operasional dan perencanaan itu hanya 20%. Juga ada understafing dimana Sumber Daya Manusia (SDM) yang selalu sedikit. Jika pemerintah serius, budget harus diperbanyak dan SDM, alumni kehutanan dengan kualitas A-Z harus ditambah. Jadi, yang bekerja di kantor pusat ataupun provinsi ditarik ke KPH. Masalah selanjutnya bagaimana kejelasan kewenangan di pusat dan daerah. Dengan diberlakukannya UU No 23 tahun 2014 kewenangan di kabupaten semuanya diserahkan ke pusat. Sementara  hutannya kan berada di kabupaten. Ini semua butuh penyelesaian masalah yang komperensif.

4.    Menurut Anda, idealnya bagaimana tata kelola hutan yang baik? Melihat KPH yang dicanangkan pemerintah juga belum maksimal hasilnya.
Jawab : Tata kelola hutan yang baik itu butuh tiga hal utama yakni transparansi data dan informasi mengenai hutan dan kehutanan, disini sangat diperlukan data yang baik, dapat dipercaya, akurat dan terkini. Jadi, tata kelola hutan yang baik membutuhkan data dan informasi yang akurat dan dapat dipercaya. Yang penting kedua dalam tata kelola hutan itu ialah akuntabilitas. Jadi dalam mengerjakan sesuatu ada pertanggungjawaban termasuk dalam hal pengunaan dana APBN secara baik dan tidak dikorupsi. Terakhir ialah antisipasi publik, bagaimana publik diikutsertakan dalam segala proses baik dalam perencanaan sampai kepada pengambilan keputusan. Jadi data dan informasi ini harus dibuat transparan kepada public dan semua stake  holder kehutanan dapat mengakses ini dengan mudah. Sehingga semua stake holder, para pemangku kepentingan kehutanan mampu mengontrol penggunaan sumber daya hutan Indonesia. Sejarah mencatat bahwa sampai sekarang, kerusakan hutan di Indonesia, deforestasi hutan yang sedemikian parah inni karena sistem politik Indonesia yang korup.  Korupsi adalah akar permasalahannya, yang menganggap bahwa Sumber Daya Hutan ini ialah kekayaan yang dapat dikeruk untuk kepentingan golongan, pribadi dan kelompok. Inilah salah satunya yang harus dibenahi dan dikoreksi.
  
5.    Jika tata kelola hutan Indonesia tidak semakin membaik, bagaimana kekhawatiran dari FWI ?
Jawab : Jadi itu yang diharapkan bagaimana pemerintah di Indonesia mewujudnyatakan tata kelola hutan yang baik. Dasarnya kan tata kelola  hutan lestari. Jika tata kelola tidak baik, makin hancur lebur sumber daya hutan di Indonesia ini.

6.    Bagaimana Anda melihat setelah tiga edisi diterbitkan buku mengenai tata kelola hutan di Indonesia. Apakah telah ada perubahan terhadap kondisi hutan kita sendiri ?
Jawab : Faktanya kalau menurut saya ada perubahan tapi belum signifikan seperti yang diharapkan. Jadi memang harus terus diupayakan. Bukan maksud FWI untuk mengubah, itu bukan tujuan kami. Namun, dengan menyajikan data kami untuk memberitahu kepada masyarakat, public dan pemerintah untuk serius memperhatikan tata kelola hutan di Indonesia.

7.    Berada di kalangan akademisi kampus membawakan bedah buku, Bagaimana sebenarnya  harapan Anda terhadap kalangan mahasiswa dalam tata kelola hutan Indonesia ?
Jawab : Yah, kalau mahasiswa sangat penting untuk aktif mencari data dan informasi mengenai hutan dan kehutanan di Indonesia. Coba lihat berbagai data yag didapat dari pemerintah dari FWI, coba bandingkan mengapa berbeda. Lalu, berpikir kritis mengapa demikian. Saya beri tantangan tadi dalam bedah buku untuk buat buku potret keadaan hutan di Sulawesi Selatan, yang saya maksud ialah kondisi penutupan lahannya saja. Dari sini aka ada proses mencari data, kritis dalam berpikir. Sehingga mahasiswa semakin peduli. 



Meski Berat, Tetaplah Setia

          “Wah, kasian sekali ada anak perempuan disuruh angkat tas besar dan jalan keliling kampung,” kata ini diucapkan para ibu yang berkumpul ketika kami lewat. Tak hanya sekali kalimat ini ku dengar, pernah juga dari sekumpulan anak kecil.
            Kala itu, diriku berjalan mengangkat tas jinjing besar dengan beban setengah berat badan yaitu 22 kg. Lalu, seorang yang lebih tua setahun dariku berjalan di depan dan sekali menoleh sinis ketika aku terjatuh dan meringis kesakitan. “Ih, kasiannya dikerjain sama seniornya disuruh jalan bawa beban,” ujar anak-anak yang menyaksikannya.
            Tas jinjing besar itu, ketika kuliah baru ku kenal dengan nama carrier. Sebelumnya, hanya sapaan tas pendaki yang ku berikan padanya. Setiap melihat ada yang mengenakan tas ini, aku menjerit dalam hati. “Wah keren sekali,” batinku. Bukan hanya mengagumi bentuk fisik tasnya namun juga karakter orang yang membawa tas itu.
            Tak lepas dari pundak orang yang berpergian jauh terlebih ke alam bebas begitulah kesan yang ku simpan pada tas ini. Bagiku, menjadi petualang ialah bagian dari mensyukuri ciptaan Tuhan. Makanya ketika duduk di bangku kuliah, aku berniat untuk bergabung bersama organisasi pencinta alam.
            Namun niat tulus ini tidak begitu saja diiyakan oleh kedua orang tuaku. Pandangan pertama ialah menjadi mahasiswa pencinta alam itu akan banyak resiko yang dihadapi. “Bagaimana mungkin kita mengatur alam?” kata Bapakku sambil menjelaskan resiko yang akan ku hadapi. Kedua ialah kuliah yang akan terbengkalai karena aktivitas yang padat. Selain itu ada kesan yang ditimbul bahwa pencinta alam justru yang menjadi perusak alam.
            Tetapi tak begitu saja diriku menyerah hingga aku bersama kedua temanku berjuang untuk memasuki organisasi ini bersama. Pandangan orang tuaku dan yang lainnya terpatahkan setelah ku berada di dalamnya.
            Tas besar yang berat nan jauh ku jinjing sambil berjalan itu tak hanya menyisahkan capek. Ada kisah indah di dalamnya, belajar mengenali diri sendiri, belajar bertahan hidup, belajar beradaptasi dengan alam dan masyarakat sekitarnya yang membuatku selalu ingin kembali bertualang.
            Betapa para pemakai tas jinjing besar yang setia menemani jejak, diguyur hujan bersama, masuk hutan bersama, makan dedaunan bersama serangga hutan dan hewan sungai. Benar kata seorang senior saat saya mengikuti wawancara untuk memasuki organisasi pencinta alam itu. “Yang setia dalam susah pasti juga akan menemani dalam bahagia,” ungkapnya kala itu.
            Inilah yang selalu ku ingat, pesan agar setia pada kesusahan. Sama seperti yang dipandang orang-orang, “Untuk apa capek dan susah-susah pergi mendaki?” Cobalah, jika ingin membuktikan ada kebahagian tak terlupakan di  dalamnya.
            Namun, sekarang  pandangan tentang pencinta alam adalah perusak alam ramai digunjingkan. Plesetan Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) menjadi Mahasiswa Paling Lama  juga ada. Bagiku, ini semua kembali pada pribadi masing-masing bagaimana caranya mengatur waktu. 
             Jika lama selesai namun bermanfaat kepada alam dan sesama, apa salahnya ? Tak ada yang memberi coretan atau conterangan benar akan pernyataanku itu. Intinya bagiku, nikmatilah tiap jejak bersama tas jinjing berat itu. Meski bebannya berat tetaplah setia akan hal besar yang engkau lalui di dalamnya.  


Tulisan ini saya buat ketika kelas Citizen Journalism di Identitas.  Kala itu kami diminta menceritakan sesuatu yang menggambarkan diri sendiri. Saya memilih menulis kesetian dalam menyusuri alam karena ingin berbagi apa yang saya rasakan, pahami dan yakini mengenai perjalanan kepada siapa saja. 
Foto diambil saat perjalanan dari pos 0 Gn. Bulusaraung menuju Pangkep.
 lokasi WISRIM X Pandu Alam Lingkungan (P.A.L)
Kembali lagi saya ucapkan :
Meski Berat Tetaplah Setia :) 
           

                         
           

             

Memecah Mitos Suku Tobalo

                                                                                             
            Kegiatan ini saya ikuti bersama 26 kawan yang memiliki hobi sama. Kami tidak berasal dari satu tempat, ada yang memang sudah memiliki dasar ilmu Kehutanan dan ada yang hanya berbekal ilmu pencinta alam. Bosan hidup dengan rutinitas kota, kami menepi sejenak menjelajah alam dan melihat kehidupan di rimba.
            Melalui kegiatan Wisata Rimba (WISRIM) ke sepuluh yang diadakan oleh Pandu Alam Lingkungan (P.A.L) Badan Eksekutif Keluarga Mahasiswa Kehutanan Sylva Indonesia (PC.) Unhas, kami menjelajahi kawasan karst Maros-Pangkep-Barru.
Di sini kami belajar tentang cara hidup alam serta sosial budaya penduduk lokal. Selama 6 hari bersatu dengan rimba, yakni Kamis-Selasa (14-19/8) kami menyusuri alam dan bersosialisasi dengan masyarakat setempat.
Tepatnya ketika berada di Dusun Labaka Desa Bulo-Bulo Kecamatan Pujananting Kabupaten Barru pada tanggal (18/8) kami mengunjungi salah satu suku yang dikenal dengan nama Tobalo.
Eksis dalam tracking
            Tobalo ini memiliki arti orang belang. Berdasarkan histori yang berkembang, keberadaan suku Tobalo ini tidak lepas dari mitos-mitos. Ada dua mitos yang berkembang di masyarakat. Mitos pertama, menyebutkan bahwa asal mula suku Tobalo ini ialah alkisah di suatu tempat ada sepasang suami dan istri yang belum memiliki anak, kemudian sang istri bertemu dengan kuda yang memiliki kulit belang, lalu secara spontan ia berdoa kepada Tuhan dikarunikan seorang anak meskipun kulitnya belang seperti kuda. Selain itu, mitos kedua mengenai suku Tobalo ini ialah adanya seorang lelaki yang memiliki kulit belang yang suka menganggu istri orang. Suatu ketika, suami dari sang istri ini pergi berkerja di sawahnya kemudian sang lelaki belang datang menganggu istri dari suami yang ke sawah ini. Alhasil, sang suami datang lalu marah dan menuduh istrinya. Istrinya pun akhirnya bersumpah jika memang saya selingkuh maka anak saya nanti akan berkulit belang sama seperti lelaki itu.
Namun, keberadaan suku Tobalo ini sebenarnya dikarenakan faktor gen, karena ketika orang Tobalo menikah dengan manusia dengan kuliat biasa, anaknya tidak Tobalo.
Kala itu, sekira pukul 16.00 WITA, saya bersama 10 orang lain datang berkunjung ke rumah suku Tobalo. Kami ditemani oleh kepala Desa. Di sini saya menemuk

an penampakan bahwa orang Tobalo ini merasa terasingkan. Saat anak dari keluarga Tobalo ini melihat ada yang datang ke rumahnya, ia langsung menutup jendela dan pintunya lalu lari bersembunyi di dalam rumah. Alhasil, kedatangan kami disambut hanya oleh Ibu dari suku Tobalo ini. Namun, berkat pembicaraan antara kepala desa dan sang ibu akhirnya anak Tobalo juga ikut berinteraksi.
Keluarga tobalo bersama peserta WISRIM 
Orang belang ini sebenarnya bukan suku lagi karena sekarang hanya ada 5 orang dalam satu keluarganya. Kelimanya terdiri dari ayah, ibu dan 3 orang anak yaitu Nurlaela, Sutrisna, dan Sopyan. Namun, yang kami temui ketika berkunjung hanyalah sang ibu dan kedua orang anaknya Nurlaela dan Sopyan. Ayah dari keluarga ini kala itu pergi bekerja memanen cengkeh di Palopo bersama kepala keluarga lainnya yang berada di desa itu. Sedangkan, anaknya Sutrisna telah berkeluarga dan sekarang tinggal di Mamuju bersama suaminya.  
Suatu pandangan berbeda saya temukan ketika berbincang bersama kedua anak Tobalo ini, Nurlaela yang duduk di kelas V SD sering merasa minder karena sering dicela kulitnya oleh teman-temannya. Anak ini ketika diajak bercakap agak takut, ia selalu melihat sinis kepada semua orang. Berbeda dengan Sopyan yang belum bersekolah, dirinya lebih sedikit terbuka jika diajak berinteraksi.
Keterasingan dari anak-anak Tobalo ini juga terlihat dari jarangnya bergaul di luar rumah. Mereka lebih sering berdiam diri di dalam rumah dan membuat gambar-gambar di dinding. Gambar antar dua orang bercakap dan beberapa gambar abstrak lainnya.
Namun, ada kejanggalan tersendiri yang saya temui dalam kunjungan kali ini. Warga sekitar menjadikan orang Tobalo ini sebagai objek wisata. Sehingga ketika berkunjung, suku ini juga terbiasa diberikan imbalan entah berupa materi ataupun sandang pangan. Sehingga, ini juga menjadi sumber penghasilan bagi orang Tobalo.
Hal ini juga kami lakukan ketika datang berkunjung, membawa bekalan materi dan bahan makanan untuk keluarga Tobalo. Bahkan, saya melihat bahwa anak Tobalo juga dipaksa berfoto bersama demi mendapat imbalan uang nantinya. Pernah terungkap dari mulut sang ibu “Ayo cepat foto, kalau tidak mau sebentar tidak dapat bagian,”
Selain itu, orang Tobalo ini sangat sensitif terhadap apapun. Sebisa mungkin jangan tertawa keras jika berkumpul bersama orang Tobalo karena mereka akan merasa bahwa ia ditertawai. Jangan sekali-kali juga mengucapkan kata Tobalo  jika berkunjung. Sebaiknya sapa saja mereka dengan sebutan bapak ataupun ibu.  
Mengenal orang Tobalo ini mengubah pandangan kami. Awalnya kami berpandangan suku ini terasingkan, menutup diri dan sangat sensitif. Padahal, mereka juga mampu diajak berkomunikasi dengan baik. Dilihat dari mata pencahariannya, orang Tobalo ini juga bersawah sama seperti keluarga lainnya di desa itu.
Tak hanya mengunjungi suku Tobalo, kegiatan menjelajah alam kami juga melakukan aksi sosial lainnya. Ada pelatihan pembuatan pupuk kompos dilakukan oleh senior saya Rezkiyanto Manggala dan Nur Zaman. Kala itu warga terlihat bersemangat sekali, namun karena hanya sedikit kemampuan bahasa Indonesia yang dimiliki warga setempat alkisah pelatihan ini diterjemahkan dalam bahasa Bugis.
Selain itu, antusiasme warga dalam menyambut kami juga terlihat dalam partisipasi penanaman beberapa jenis pohon di lahan warga dan pembagian bibit. Sekira, 100 bibit yang terdiri dari bibit ki hujan, sengon, jati putih, mahoni dan rambutan ludes diangkut warga untuk ditanam di lahannya masing-masing.
Inilah kisah berwisata di rimba, mengintip masuk kehidupan masyarakat pedesaan, sesaat bersatu dengan alam agar mampu mendengar jeritannya dan saat kembali pulang ku tuliskan kisahnya, agar dunia tau alam yang hijau beserta isinya ini tidak sedang baik saja.
 
Fransiska Sabu Wolor

Damai Natal-ku

Natal tahun ini sama seperti tahun-tahun lainnya dirayakan di rumah saja. Bersama keluarga (Bapak, Mama, Abang Aron), namun kurang kaka Erik. Kini kaka Erik sesuai tuntutan pekerjaannya harus natalan di Sorong bersama teman-temannya. Sedih rasanya, biasanya natal nyanyi bareng sama kaka, walau entah nada di pungut di mana ke mana. Intinya memuji Tuhan, entahlah mungkin Tuhan terganggu dengan kebisingan suara kami yang tak jelas nadanya. Keikhlasan hatilah yang mennjadi landasan menyanyi bagiku. Hehe

Selain tanpa kaka Erik, natal kini ku rayakan bersama keluarga kecil-ku, identitas begitulah sapaan akrabnya. Beberapa kakak senior, adik magang dan teman-teman kru datang mengunjungi kediaman kedua orang tuaku. Senangnya hati ketika toleransi beragama sesama kami masih rukun adanya. Akhirnya semua santapan buatan mama lahap oleh tamu undangan. 

Terima kasih keluarga kecil-ku, Damai natal bersama kita semua. 
Karena perbedaan itu indah dan kita di dalamnya maka tetaplah satu :)  

Keluarga kecil, bapak dan mama keep eksiss yooo :)

Tanam Pohon Hanya Seremoni


     Kini penanaman pohon marak terjadi di mana-mana. Tak hanya oleh kalangan Pencinta Alam (PA) atau pemerhati lingkungan saja. Sekarang semua kalangan mulai dari pelajar, pekerja kantoran, pemerintah atau yang lainnya mulai gemar menanam pohon.  Penanaman ini tidak salah malah baik adanya jika melihat makin banyak manusia yang sadar dengan keadaan bumi yang tak sedang baik saja.
        Penanaman juga mulai diadakan di berbagai tempat, kalau dari kalangan PA dan pemerhati lingkungan kebiasaan menanam pohon diadakan di tempat yang memang gundul atau lahan kritis yang memang membutuhkan pohon. Sedangkan di kalangan lainnya kebanyakan melakukan penanaman di sekkitar area lingkungannya baik sekolah ataupun kantor.
            Namun, kali ini saya memandang dari sudut yang berbeda. Penanaman pohon hanya dilakukan saat pergelaran suatu acara saja. Hal ini memang wajar, seperti yang diungkapkan oleh Dekan Fakultas Kehutanan, Prof Dr Ir Muh Restu, MP “Menanam pohon memang harus ada ceremony nya kan?” ujarnya saat saya wawancarai lewat telepon, Kamis (6/11). Tapi, begitu tegakah kalian menyianyiakan bibit pohon hanya untuk diberi label “Peduli akan Alam” ?
            Tak lama, pengelihatan saya tertuju pada banyaknya pohon yang mati sia-sia di atas tangan orang yang tidak bertanggung jawab. Tugas kita itu bukan hanya menanam lalu pergi. Kita semestinya merawatnya juga. Jangan hanya ikut-ikutan memasukkan agenda penanaman pohon dalam setiap acara seremoni, lalu sudah setelah acara berakhir dan selamat tinggal pohon. Lalu, ketika menanam, kita hanya berfoto kemudian dimasukkan ke dalam social media agar dipuji bahwa memang peduli lingkungan, dsb. Tak perlu banyak kegiatan Go Green lah, Satu orang tanam satu pohon lah, penanaman 1000 pohon lah dsb jika tak mau merawatnya
            Berdasarkan hasil pengamatan saya, di kampus tercinta kita saja Universitas Hasanuddin yang meski sudah banyak pohon menghiasi kampus saja masih tak paham tentang penanaman. Di sini masih saja diadakan penanaman yang kesannya ‘ikut-ikutan’ataupun ‘ingin dipuji’. Saya yakin birokrat paham bahwa sekarang bukan musim tanam karena tak ada hujan. Jelas paham, terlebih salah seorang yang berpartisipasi ialah ahli tanam pohon di disiplin ilmu kami. Nah lalu mengapa marak diadakan penanaman pohon saat ada kegiatan dies natalis entah universitas ataupun fakultas ? Hanya karena momen seremoninya dapat ?
Lah, ketika ditanya mengapa pohon semuanya mati. Malah menyalahkan iklim, malah salahkan air. Hal ini saya dengar dari ungkapan Kepala Sub Bagian Perlengkapan Universitas Hasanuddin, Morex Rohim. “Sekarang kan bukan musim hujan dek, wajar saja pohonnya mati. Kan tidak ada air,” ujarnya saat diwawancarai di ruangannya, Kamis (6/11).
Lantas, mengapa tak saat musim hujan saja kau menanam wahai birokrat ? Kau pajang besar namamu di samping pohon dan bangga telah menanam ? Padahal tanamanmu mati. Tak sadarkah kau banyak bibit kau buang hanya untuk pajang namamu? Apa ini agar kau dipuji semua orang yang membaca namamu?

Sungguh, jangan bawa pohonku dalam kepentingan nama besar, jabatan dan keegoisanmu manusia !!!   
                                                                  


            

Inilah Kemerdekaan !!!

Kali ini, Indonesia ku kembali bertambah usia lagi. 69 tahun ini merupakan usia yang sudah lanjut bagi manusia pada umumnya. Begitu juga dengan Negaraku, rupanya ia sudah lanjut. Adakah ia lelah menjalani hari-harinya ? Ataukah merindukan masa mudanya ?

17 Agustus 2014. Tahun ini rasa syukur ku akan kemerdekaan yang diperjuangkan para penjajah berhasil tergambar melalui upacara kemerdekaan. Berbeda dengan sebelumnya ketika masih duduk di bangku sekolah, upacara di lapangan menjadi agenda utama. Namun kini, begitu mengharukan lagu Indonesia Raya ku nyanyikan di tegalan camp ke tiga Wisata Rimba X yang terletak di Pangkep.
Sungguh berbeda, nuansa lebih dekat alamnya membuatkan hanya satu asa yang ku titip di tengah letihnya negara ini. Tolong jagalah selalu alam negara ini, agar di usia tuanya ia tetap tersenyum lestari :) 

Ini cuplikan upacaranya.. 
Maringok (Mari kita tengok) :D